Filosofi kedaulatan kreator yang mengkritik ekonomi platform digital. Setiap aset yang di-upload, setiap audiens yang dibangun, semua menguntungkan infrastruktur dan shareholder platform yang bukan milik kreator.
RENTLESS mengidentifikasi dua kegagalan struktural: Principal-Agent Problem — kreator mengira platform sebagai agen mereka, but they aren't. Dan Tragedy of the Commons — attention economy memaksa untuk degrading quality demi metrics.
Create. Publish. Own. Ownership begets sovereignty. Hidup dengan karya tanpa bergantung pada sistem yang disewa.Internet yang seharusnya jadi ruang utopia sekarang terasa seperti distopia. Tempat buat berbagi, berkarya, dan berjejaring berubah jadi medan perang buat mendapatkan atensi.
Semua berlomba biar terus terlihat dan engage. Tanpa sadar, semua peserta menjadi unpaid labor dan cashcow dari platform yang mereka pakai.
Fokusnya bergeser dari makna ke data dan angka.
Sosial media, platform yang dipakai milyaran orang, itu tidak netral. Algoritma menentukan apa yang trending, siapa yang menang di attention game, dan kapan sesuatu bisa kita terima buat dianggap "normal."
Konten yang memicu ketakutan, kemarahan, dan polarisme terbukti paling efektif. Dan itu menguntungkan segelintir elit, at the user cost.
We live in a state of algorithmic anxiety.Di dunia yang makin kacau dan dipenuhi konten negatif, bersikap optimis bukan hal yang naif. Tetapi adalah sebuah perlawanan.
Tetap rasional, percaya keadaan bisa berubah, dan menolak pesimisme adalah simbol penolakan.
Pesimisme akan selalu menguntungkan pihak yang memegang kontrol. Entah itu media, platform, pemerintah, atau figur cult leader.
Hopelessness membuat orang patuh, optimisme mendisrupsi konsep ini.
Karena yang masih punya harapan lebih sulit dikendalikan.
Hope is actually a punk.Platform adalah tempat bertukarnya signal, value, dan atensi untuk mempermudah koneksi, transaksi, dan distribusi.
Tapi sesuatu yang mudah itu tidak gratis. There's no free lunch. Untuk tetap relevan, pengguna platform sosial media terus dipaksa secara tidak langsung untuk login, scroll, post, engage.
Platform dibangun untuk efisiensi, metrik, dan rate konversi — bukan untuk meaning.
Makna tidak bisa diinjeksikan oleh sebuah sistem atau algoritma. Ia tidak datang dari desain platform, tapi dari real experience and intention penggunanya.
Direction can be outsourced. Purpose is personal.Ketika meaning dibangun diatas sistem yang tidak punya etos ownership atau kepemilikan untuk pengguna, dampaknya bukan freedom, it's a dependency.
Semuanya hanya disewakan. Kepemilikan utuh tetap dipegang platform.
Tanpa ownership, pengguna adalah "pekerja" di dalam sistem.
Value terbentuk karena penggunanya, tapi segala keuntungan dikontrol penuh oleh platform.
Own the upside.Platform memegang kendali atas nilai dari atensi yang diciptakan pengguna.
Pengguna sebagai creator di platform sosial media tidak pernah mendapatkan real value secara langsung dari audience yang mengonsumsi kontennya selain views, likes, share dan follow atau subscribe.
Tanpa equity berupa ownership atas konten atau digital assets, atensi hanya jadi metrik yang disewakan platform.
Sehingga, untuk bertahan, creator dipaksa menjual metrik itu ke pihak ketiga seperti brand, korporasi, government atau institusi.
Padahal value tersebut seharusnya mengalir langsung dari audience ke creator, tanpa middlemen platform.
From making meaning to making metrics. The platform is not your partner.Sellout bukan tentang jualan atau dibayar dengan masif. Payment is honest work; pretending is not.
Sellout terjadi ketika kebenaran dan kejujuran mulai dipelintir demi likes, reach, engagement, and approval sesuai dengan metrik platform.
Makna suatu karya akan bergeser saat disesuaikan agar disukai, daripada menyuarakan kebenaran.
It's no longer about meaning. It's about approval.
Menukar kebenaran dengan validasi tidak akan mendatangkan kesejahteraan, melainkan ketergantungan.
And dependency is a platform business model.Setiap creator pernah merasa stuck: kerja keras, menghasilkan value untuk audience, tapi tetap merasa powerless. Tidak berdaya.
Faktanya, ini bukan masalah skill atau dedikasi. Issue-nya ada pada broken system yang didesain agar creator tidak memiliki kontrol.
Creator naik atau turun, platform wins. Konten viral atau tenggelam, platform wins. The platform always wins.
Dan ketika semua creator mengalami kegelisahan yang sama, itu bukan kebetulan.
It's by design. We're playing a rigged game."If you tolerate this, then your children will be next." Manic Street Preachers
Followers are not the audience. Followers are the platform's assets.
Followers dikumpulkan, disesuaikan, dan dikontrol untuk kepentingan sistem platform.
Audience yang sesungguhnya adalah supporters. Mereka yang berinteraksi, bertransaksi, dan mengamplifikasi creator yang mereka dukung.
Kontribusi dari audience berdampak langsung pada perkembangan karir creator.
Mereka peduli pada kedaulatan creator, bukan pada algoritma.
Audience tidak bergantung pada platform. Mereka tetap exist, bahkan ketika creator memilih keluar dari sistem dan mengambil kendali penuh atas karyanya.
Jika masalahnya adalah ketergantungan sistemik, maka solusinya tidak hanya motivasi. Tetapi, infrastruktur dan protokol.
Infrastruktur kepemilikan adalah pondasi paling dasar.
Audience email list and contacts. Creator direct payment. Fully owned content. Etc.
Owned infrastructure reveals the truth.
Tanpa adanya infrastruktur kepemilikan, yang akan bertahan adalah hal-hal yang viral dan lebih menguntungkan sistem.
What you build on determines what you keep.Hidup dengan berkarya tanpa bergantung pada sistem yang disewa.
Extreme ownership begets Sovereignty.
Own your network. Own your content. Own your payment rails.CREATE.
PUBLISH.
OWN.
Sovereignty is structural.
Choose your infrastructure.Failed physicist and generalist. Spent 5 years learning blockchain the hard way. From NFTs, memecoins, creator tokens, ZK stuff, to recent AI agents.
Product enthusiast trying to connect dots between commerce, design, and people. Mostly just facilitating and observing what sticks.
Full-time contributor to HIGHER network. Living online, experimenting with how decentralization might actually work in the real world.
Nowhere specific. No grand vision. Just building, shipping, iterating.